Poem Snow and Desert | Salju dan Gurun di Puisi Agha Shahid Ali

Poem Snow and Desert | Salju dan Gurun di Puisi Agha Shahid Ali

By Blogiwank | blogiwank | 3 Mar 2019


Indonesian readers seems less familiar with Agha Shahid Ali, an Indian Muslim poet. Agha Shahid Ali was born in India and held PhD at Pennsylvania State University. I translate one of his poems into Bahasa Indonesia.

 

Cover Art Source: Pixabay

 

Agha Shahid Ali adalah penyair Amerika yang menulis puisi modern. Latar belakangnya, sebagai orang kelahiran India, tetap membayang dan kadang muncul kentara dalam puisi-puisinya.

Sebelumnya saya telah menyajikan terjemahan atas salah satu puisinya, "Malam Ini" ("Tonight").

Kali ini saya akan menyajikan puisinya yang lain: "Snow on the Desert". Judul puisi ini langsung menggodam pembaca. Dia kontradiktif tapi puitis. Salju di gurun. Mungkinkah ada salju di gurun? Mungkin. Tapi, kontras antara kegersangan gurun dan basahnya salju akan lebih membayang di benak pembaca.

Namun, bila kita baca puisinya, kita akan menemukan bahwa salju dan gurun itu adalah metafor. Sebuah amsal dari kehilangan.

Silahkan membaca.

 

Salju di Gurun

 

Agha Shahid Ali

 

"Setiap sinar matahari sudah tua tujuh menit,"
Serge memberitahuku di New York pada suatu malam di bulan Desember.

"Jadi ketika aku melihat langit, aku melihat masa lalu?"
"Ya, ya," katanya, "terutama pada hari yang cerah."

Pada 19 Januari 1987,
dinihari saat
aku mengantar adikku ke Tucson International,

tiba-tiba di Alvernon dan 22nd Street
pintu geser kabut terbuka,

dan salju, yang telah turun semalaman, sekarang
disilaukan matahari, membutakan kami, bumi memutih

tumbuh, seolah-olah kokain, tanaman-tanaman gurun,
warna mineral kerasnya padam,
anggur membeku di pembuluh kaktus.

***

Gurun Berbau Seperti Hujan: di dalamnya aku baca:
Sirup dari mana anggur suci dibuat

diekstrak dari saguaros masing-masing
musim panas. Para papago meletakkannya di stoples-stoples,

yang terakhir melunak, lalu menjadi gelap
menjadi warna darah walau terasa

manisnya aneh, hampir putih, seperti anggur kering.
Seperti yang aku katakan pada Sameetah ini, kami masih

tujuh mil jauhnya. "Dan kau tahu bunga-bunga
saguaros hanya mekar di malam hari?"

Kami berkendara perlahan, jalanan berkaca.
"Bayangkan tempat kita ini dulu sebuah samudera.

Bayangkan saja!" Langit terus menerus
safir, dan masa lalu terjadi begitu cepat:

saguaros-saguaros telah membuka diri, membentangkan
keluar tangan mereka ke sinar-sinar berusia jutaan tahun,

di setiap sinar rahasia asal usul
planet ini, sinar-sinar menyakiti setiap kaktus

kepada kenangan, kenangan manusia
karena mereka adalah manusia, para Papago berkata:

Bukan hanya karena mereka punya lengan dan pembuluh
dan rahasia. Tapi karena mereka juga adalah suatu suku,

rentan terhadap pembantaian. "Ini seperti
akhir, mungkin awal dunia,"

Kata Sameetah, sambil menatap lengan-lengan-baju-salju
mereka. Dan kami berkendara di tepi samudera

yang menguap di sini, di pantainya,
masa lalu sekarang terjadi begitu cepat sehingga masing-masing

Lampu lalu-lintas menusuk kami masuk ke kenangan, langit
segera mencatat ketika kami berputar

di Tucson Boulevard dan meluncur ke
bandara, dan aku sadar bahwa bumi

mencair dari kerinduan ke kerinduan dan
bahwa kami akan dilupakan oleh lengan-lengan itu.

***

Di bandara aku menatap pesawatnya
sampai jendela itu

      sebuah cermin lagi
Saat aku kembali ke kaki bukit, kabut

menutup pintunya di belakangku di Alvernon,
dan aku menghirup laut-laut kering

      bumi telah hilang,
pantai mereka yang ditinggalkan. Dan aku ingat

momen lain yang hanya mengacu
kepada dirinya sendiri:

      di New Delhi pada suatu malam
ketika Begum Akhtar bernyanyi, lampu-lampu padam.

Mungkin selama Perang Bangladesh,
Mungkin ada sirene,

      peringatan serangan udara
Tapi penonton, terdiam, bergeming.

Mikrofon sudah mati, tapi dia terus
bernyanyi, dan suaranya

      datang dari jauh
jauh, seolah dia sudah mati.

Dan sesaat sebelum lampu menyiraminya
lagi, mencairkan embun beku

      berliannya
menjadi bersinar, seperti gelap gulita

kabut ini, sesaat ketika hanya lautan yang hilang
yang bisa didengar, waktunya

      untuk mengingat
setiap bayangan, segala yang bumi telah kehilangan,

waktunya untuk memikirkan semua yang bumi
dan aku telah kehilangan segalanya

      bahwa aku akan kehilangan,
atas semua kehilangan.

Catatan

  • Puisi ini dipetik dari Agha Shahid Ali, "Snow on the Desert", dalam A Nostalgist's Map of America (W. W. Norton & Company, Inc., 1992)
  • saguaros (Carnegiea gigantea), kaktus raksasa yang cabangnya berbentuk seperti tempat lilin bercabang, adalah tanamaan asli Amerika Serikat Barat Daya dan Meksiko.
  • Papago, sebutan bagi anggota suku Indian Amerika di Amerika Serikat Barat Daya dan Meksiko utara.

 

∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎

I hope you love my works. Follow @blogiwank if you want to support me. Thank you.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Kalau Anda mendukung saya untuk menulis artikel-artikel semacam ini, Follow @blogiwank

∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎

I am a photographer, writer, and artist who love crypto and blockchain. You can find my other works in Blogiwank Steemit

∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎∎

My other article on Publish0x

 

How do you rate this article?


0

0

Blogiwank
Blogiwank

I am a photographer, writer, and artist who love crypto and blockchain. You can find my other works in my blog https://steemit.com/@blogiwank and https://peakd.com/@blogiwank


blogiwank
blogiwank

Let’s talk about fiction, photography, art, crypto, and politics

Send a $0.01 microtip in crypto to the author, and earn yourself as you read!

20% to author / 80% to me.
We pay the tips from our rewards pool.